Tampilkan postingan dengan label Fakultas Kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fakultas Kebidanan. Tampilkan semua postingan

KEBUTUHAN GIZI PADA ANAK DAN REMAJA

MAKALAH KEBUTUHAN GIZI PADA ANAK DAN REMAJA

Mata Kuliah : Ilmu Gizi

KEBUTUHAN GIZI PADA ANAK DAN REMAJA


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Meningkatnya mobilitas para remaja saat ini merupakan salah satu keberhasilan bagi bangsa kita, di karenakan para remaja yang ada di negara ini sekarang sudah mempunyai kegiatan-kegiatan yang positif yang mampu memacu perkembangan pola berfikir para remaja tersebut. Akan tetapi globalisasi seperti itu akan berdampak negative terhadap kesehatan para remaja, walaupun secara globalisasi para remaja saat ini memberi keuntungan bagi bangsa Indonesia.

Perkembangan teknologi khususnya bidang telekomunikasi sangat mempengaruhi perkembangan para remaja. Remaja semakin giat mengikuti perkembangan teknologi sehingga berdampak sempitnya ruang dan waktu yang ada bagi remaja untuk memikirkan kesehatannya. Jadwal dan kegiatan yang padat mengakibatkan sebagian remaja memilih makanan siap saji tanpa memikirkan gizi yang dibutuhkan tubuh. Kemudahan-kemudahan di berbagai bidang serta sempitnya ruang dan waktu mengakibatkan anak dan remaja kita menjadi sangat kurang beraktivitas jasmani.

Dalam kehidupan sehari-hari untuk melakukan suatu kegiatan kita memerlukan adanya energi di dalam tubuh kita. Semakin banyak energi yang ada pada tubuh kita, maka semakin banyak kegiatan yang bisa kita lakukan. Tetapi dengan keadaan yang saat ini serba instant, serba mudah, maka gizi yang seimbang sangatlah susah di capai untuk anak dan remaja yang aktif sehingga kesehatanpun terabaikan.

B. Tujuan

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana solusi untuk anak dan remaja yang disibukan dengan kegiatan-kegiatannya maupun gaya hidup yang sekarang banyak di lakukan oleh anak dan remaja.

BAB II

PEMBAHASAN

Anak-anak dan para remaja saat ini sangat dituntut untuk mempunyai prestasi dan harus bisa mengikuti alur perkembangan jaman. Oleh sebab itu banyak sekali anak-anak dan para remaja kurang memikirkan tentang kondisi fisiknya baik atau tidak. Mereka hanya memikirkan kegiatan-kegiatan yang mereka ikuti dan biasanya di tuntut untuk memperoleh suatu prestasi. Jika mereka mempunyai kegiatan yang memang memerlukan kegiatan fisik misalnya olahraga, mungkin pola makan sudah di atur oleh mereka guna menjaga tubuh mereka agar tetap fit, jadi untuk anak-anak dan para remaja pada kelompok ini tidak ada masalah untuk masalah gizi. Tetapi jika melihat anak-anak dan para remaja yang berada di kelompok lain, misalkan di berbagai organisasi kampus, musik, dll, mereka tidak akan sempat memikirkan gizi yang dibutuhkan, karena mereka beranggapan memang tidak perlu untuk memikirkan hal tersebut. Beda sekali dengan kelompok anak-anak dan para remaja yang exist di cabang-cabang olahraga, mereka akan berusaha membuat badan tetap sehat dan fit agar supaya mereka masih bisa melakukan olahraga tersebut, karena mereka memang membutuhkan energi yang banyak jika di bandingkan dengan anak-anak dan para remaja di kelompok yang lain.

Untuk menghindari anak-anak dan para remaja pada umumnya yang tidak memikirkan pola makan yang sehat atau gizi yang di butuhkan dalam dirinya maka sangat penting sekali kita mengenalkan atau memberi pengertian tentang manfaat pola makan yang baik dan gizi seimbang bagi tubuh kita. Sehingga anak dan para remaja yang sering disibukan dengan aktivitas-aktivitas yang menyita banyak waktu akan sadar akan pentingnya pola hidup sehat dengan memakan makanan yang mempunyai gizi seimbang guna memenuhi energi yang dibutuhkan untuk tubuh kita.

Pengertian Gizi Seimbang

Yang dimaksud dengan gizi seimbang adalah pola makan yang seimbang antar zat gizi yang di peroleh dari aneka ragam makanan dalam memenuhi kebutuhan zat gizi untuk hidup sehat, cerdas dan produktif.

Jadi jika anak dan para remaja ingin mempunyai gaya hidup yang sehat maka di samping melakukan olahraga kita juga harus mengatur pola makan yang baik, sehingga kebugaran badan tercapai dengan olahraga dan kebutuhan gizi yang dibutuhkan tubuh juga terpenuhi dengan mengatur pola makan, dengan kata lain jika kedua hal tersebut tercapai maka kita bisa melakukan aktifitas yang kita inginkan.

Komposisi gizi yang seimbang

Jika kita ingin mengetahui pola makan dengan gizi yang seimbang, maka kita harus mengetahui pedoman umum gizi seimbang disertai logo kerucut seperti di bawah ini :

Bahan makanan dikelompokan berdasarkan fungsi utama zat gizi, yang dikenal dengan istilah TRI GUNA MAKANAN, yaitu :

1. Sumber zat tenaga (padi-padian, umbi-umbian, dan tepung-tepungan)

2. Sumber zat pengatur (sayur dan buah-buahan)

3. Sumber zat pembangun (kacang-kacangan, makanan hewani dan hasil pengolahannya)Digambarkan kelompok bahan makanan yang penggunaanya dibatasi, yaitu gula dan garam.

PENUTUP

Demikianlah makalah tentang kebutuhan gizi pada anak dan remaja, semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi pembaca.

KESIMPULAN

Di jaman globalisasi seperti sekarang ini memang sangat mempengaruhi perubahan gaya hidup seseorang, termasuk perubahan pola makan. Jika pola makan yang diubah tersebut tidak memenuhi gizi yang dibutuhkan pada tubuh maka kesehatan pun akan berkurang, apalagi dengan generasi penerus bangsa yaitu anak-anak dan para remaja yang akhir-akhir ini disibukan dengan tuntutan belajar dan pergaulan. Oleh sebab itu pennting sekali pendidikan mengenai gizi yang dibutuhkan oleh mereka, jadi dengan sendirinya mereka akan tau betapa pentingnya gaya hidup sehat guna menunjang kehidupan yang akan dating.



Soal dan kunci jawaban SKB CPNS bidan

 Soal dan kunci jawaban Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) CPNS jurusan Kebidanan

Ny. “N” umur 25 tahun, anak pertama umur 6 bulan datang ke BPS menyatakan belum ingin punya anak lagi, dan ingin menggunakan kontrasepsi implanon, hasil pemeriksaan dalam batas normal dan saat ini sedang haid hari ke 2 (Soal no 1-5)

1. Kontrasepsi yang dipilih Ny. “N” efektif dalam

a. 2 tahun

b. 3 tahun

c. 5 tahun

d. 5 tahun

e. 6 tahun

2. Jumlah batang implan yang digunakan Ny. “N” adalah

a. 1 batang

b. 2 batang

c. 4 batang

d. 5 batang

e. 6 batang

3. Isi  kandungan dari alat kontrasepsi tersebut adalah

a. 36  levonorgestrel

b. 75 levonorgestrel

c. 36 levonorgestrel +3  keto-desogestrel

d. 68 levonorgestrel +3  keto-desogestrel

e. 75 levonorgestrel +36  keto-desogestrel

4. Waktu yang tepat dalam pemasangan kontrasepsi yang dipilih Ny. “N” adalah

a. Saat itu juga

b. Setelah hari ke-7

c. Hari ke 2-7 menstruasi

d. Hari ke 14 menstruasi

e. Menunggu menstruasi bulan berikutnya

5. Efek samping yang mungkin terjadi adalah

a. Mual

b. Amenprea

c. Keputihan gatal

d. Perdarahan banyak

e. Nyeri saat bersenggama

Ny. “R” dan suaminya biasa menggu nakan kontrasepsi kondom. Semalam melakukan hubungan seksual tanpa kondom karena kehabisan. Lama haid lima hari. Saat ini Ny. “R” berada pada siklus haid hari kesepuluh. Pagi ini dia datang ke tempat praktik anda minta bantuan agar tidak hamil (Soal no 6-10).

6. Kontrasepsi apa yang anda berikan kepada Ny. “R”

a. Pil progestin

b. Pil kombinasi

c. Suntik cyclofem

d. Suntik kombinasi

e. Kontrasepsi Darurat Pil

7. Waktu yang tepat menggunakan kontrasepsi tersebut maksimal

a. 7 hari sejak hubungan seksual

b. 12 jam sejak hubungan seksual

c. 24 jam sejak  hubungan seksual

d. 48 jam sejak hubungan seksual

e.  72 jam sejak hubungan seksual

8. Berapa dosis dan bagaimana cara penggunaan kontrasepsi tersebut

a. Pil kombinasi dosis tinggi minum 4 tablet diulang 4 tablet 24 jam berikutnya

b. Pil kobinasi dosis tinggi minum 2 tablet diulang 2 tablet lagi 12 jam kemudian

c. Pil kombinasi diminum 1 tablet pada malam hari dilanjutkan 1 tablet tiap hari pada waktu yang sama

d. Pil progestin diminum 1 tablet pada malam hari dilanjutkan 1 tablet tiap hari pada waktu yang sama

e. Disuntikkan saat ini, diulang 4 minggu kemudian selama 7 hari memakai kondom jika ingin berhubungan seksual

8. Apa efek samping kontrasepsi tersebut

a. Spotting

b. Mual dan muntah

c. Peningkatan berat badan

d. Nyeri daerah penyuntikan

e.Tekanan darah meningkat

10. Kapan Waktu mulai menggunakan kontrasepsi lainnya yang tepat

a. Pil langsung diminum

b. Kondom dapat dipakai segeera

c. AKDR dapat dimulai hari ke-7

d. Suntik diberikan 5 hari periode menstruasi berikutnya

e. Implant dipasang dalam 5 hari periode menstruasi berikutnya

Ny. “N” umur 21 tahun datag ke BPS Ny. “D” dengan keluhan pada payudara sebelah kanan teraba benjolan, mudah digerakkan, tidak berubah-ubah besarnya dan tidak nyeri (Soal no 11-15).

11. Sesuai kasus diatas kemungkinan diagnosis Ny. “N” adalah

a. mastitis

b. ca Mammae

c. Engorgement

d. Piget disease

e. Fibroadenoma

12. Data penunjang yang sesuai dengan kasus diatas perlu dikaji riwayat

a. Penyakit akut

b. Penyakit kronis

c. Penyakit menular

d. Penyakit menahun

e. Penyakit keturunan

13. Deteksi dini yang dapat dilakukan pada Ny. “N” adalah

a. USG

b. SADARI

c. IVA Test

d. Mamografi

e. Papinicolou smear

14. Pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosis Ny. “N” adalah

a. EKG

b. USG

c. Rontgen

d. Lab darah

e. Mammografi

15. yang merupakan tindakan bidan untuk mengatasi masalah diatas yaitu kolaborasi dengan

a. Dokter obgin

b. Dokter bedah

c. Dokter internal

d. Dokter onkologi

e. Cokter pediatric

Nn. A umur 35 tahun datang ke BPS ingin periksa payudara sebelah kiri terdapat benjolan yang semakin lama semakin membesar, sulit digerakkan, terasa sakit (Soal no 16-20)

16. Berdasarkan data diatas, kemungkinan Nn. “A” menderita

a. Piget disease

b. Engorgement

c. Kanker payudara

d. Fibro adeno mammae

e. Kista sarcoma filodes

17. Tindakan yang boleh dilakukan oleh bidan sesuai dengan kewenangannya adalah

a. Bedrest

b. Kemoterapi

c. mamografi

d. Rujuk ke rumah sakit

e. Perbaikan nutrisi

18. Penyakit Nn. “A” termasuk golongan

a. Akut

b. Infeksi

c. Benigna

d. Menular

e. Herediter

19. Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosis, perlu anamnesis tentang adanya penyakit yang sama diderita oleh

a. Ayahnya

b. Nenek dari ayah

c. Teman akrabnya

d. Saudara sepupu ayah

e. Ibu atau nenek dari pihak ibu

20. Predisposisi timbulnya penyakit pada kasus Nn. “A” adalah

a. Umur

b. Tidak menikah

c. Faktor keturunan

d. Tidak hamil atau tidak menyusui

e. Sering Melakukan ManipulasiPayudara

Ny. “V” umur 42 tahun, mengalami menstruasi tidak teratur kurang lebih 6 bulan, saat ini setiap menstruasi perdarahan banyak dan keluar skotsel. datang ke bidan, hasil pemeriksaan fisik TD: 120/70 mmHg. N: 120x/menit dan cepat, R: 29x/menit. Pemeriksaan abdomen terada masa berbenjol benjol (Soal no 21-25).

21. Sesuai data kemungkinan Ny. “V” mengalami suspect

a. Myoma uteri

b. Endometriosis

c. Servitis uteri

d. Endometriosis

e. Cstoma ovarii

22. Data lain yang perlu dikembangkan adalah adanya

a. Kontang bleeding

b. Berganti-ganti pasangan

c. Jumlah darah yang keluar

d. Pemenuhan kebutuhan nutrisi

e. Beberapa kali ganti pembalut sehari

23. Pemeriksaan penunjang untuk kasus diatas adalah

a. Urine

b. Darah

c. Biopsi

d. Lendir serviks

e. Lendir vagina

24. Ny. “v” termasuk periode umur

a. Senium

b. Menopause

c. Klimakterium

d. Premenopause

e. Pasca menopause

25. Tindakan sementara adalah mengatasi perdarahan Ny. “V” dapat diberikan

a. Roboransia

b. Uterotonika

c. Antikoagulan

d. Hormon estrogen

e. Hormon progesteron

Ny. “N” umur 21 tahun datang ke BPS Ny. “Z” dengan keluhan pada payudara sebelah kanan teraba benjolan, tidak berubah!ubah besarnya dan tidak nyeri, hasil pemeriksaan ada benjolan dan mudah digerakkan dan tidak ada nyeri tekan (Soal no 26-30).

26. Sesuai kasus diatas kemungkinan diagnosis Ny. “N” adalah

a. Mastitis

b. Ca mammae

c. Engorgement

d. Piget disease

e. Fibroadenoma

27. Untuk melengkapi data Ny. “N” perlu dikaji tentang riwayat

a. Penyakit akut

b. Penyakit kronis

c. Penyakit menular

d. Penyakit menahun

e. Penyakit keturunan

28. Pendidikan kesehatan yang bisa diberikan untuk melakukan deteksi dini pada Ny. “N” adalah

a. Papinocolou smear

b. Mammografi

c. IVA test

d. SADARI

e. USG

29. Tindakan yang dilakukan bidan untuk mengatasi masalah Ny. “N” adalah

a. Kolaborasi dengan dokter

b. Kolaborasi dengan dokter obgin

c. Kolaborasi dengan dokter internal

d. Kolaborasi dengan Dokter bedah

e. Kolaborasi dengan dokter pediatric

30. Pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosis Ny. “N” adalah

a. EKG

b. USG

c.Rontgen

d. Lab darah

e. Mammografi

Ny. “k” umur 40 tahun P6A1 datang ke tempat bidan. Hasil anamnesis Ny. “K” mengalami keputihan yang berbau kurang lebih 1 tahun dan akhir-akhir ini mengalami perdarahan saat melakukan hubungan seksual. Hasil pemeriksaan KU pucat, TD 90/60 mmHg, N:88x/menit, S:37,6°C, R: 18x/menit, Hb 7 mg/dl  (Soal no 31-25)

31. Penyakit Ny. “K” dapat dideteksi dengan cara pemeriksaan

a. Biopsy

b. Kolskopi

c. Histerosikopi

d. Histerosalpingografi

e. Papanicolou smear

32. Faktor predisposisi penyakit yang diderita Ny. “K” adalah

a. Sering Melahirkan

b.Ibu mengalami anemia

c. Pemakaian kontrasepsi

d. Hygiene seksual yang kurang baik

e. Frekuensi hubungan seksual yang sering

33. Ny. “K” kemungkinan menderita

a. Ooforitis

b. Serviksitis

c. Polip serviks

d. Cancer serviks

e. Radang panggul

34. Tindakan yang sesuai dengan kewenangan bidan untuk mengatasi kasus Ny. “K” adalah

a. Bedrest

b. Kemoterapi

c. Rujuk ke rumah Sakit

d. Observasi KU

e. Perbaikan nutrisi

35. Untuk menegakkan diagnosis, kemungkinan Ny. “K” dilakukan pemeriksaan

a. Urine

b. VDRL

c. ELISA

d. Kultur darah

e. Tes DNA HPV

Nn. “A” umur 35 tahun datang ke BPS ingin periksa. Dengan keluhan payudara sebelah kiri terdapat benjolan yang semakin lama semakin membesar, terasa sakit. Hasil pemeriksaan teraba massa yang sulit digerakkan, nyeri tekan (Soal no 36-40).

36. Berdasarkan data diatas, kemungkinan Nn. “A” menderita

a. Piget disease

b. Engorgement

c. Kanker Payudara

d. Fibro adeno mammae

e. Kista sarcoma filodes

37. Penyakit Nn. “A” termasuk golongan

a. Akut

b. Infeksi

c. Benigna

d. Manular

e. Maligna

38. Tindakan yang boleh dilakukan oleh bidan sesuai dengan kewenangannya adalah

a. Bedrest

b. Kemoterapi

c. Mamografi

d. Rujuk ke Rumah Sakit

e. Perbaikan nutrisi

39. Pemeriksaan yang dilakukan di rumah sakit, untuk menegakkan diagnosis Nn. “A” adalah

a. USG

b. EKG rontgen

c. Mamografi

d. Laboratorium

40. Predisposisi timbulnya penyakit pada kasus Nn. “A” adalah

a. Umur

b. Tidak menikah

c. Faktor keturunan

d. Belum pernah hamil

e. Manipulasi payudara

Ny. “I” seorang ibu rumah tangga, datang ke poli kandungan dengan keluhan bengkak di daerah kemaluan bagian bawah, keputihan, panas dan nyeri Waktu kencing (Soal no 41-45)

41. Sesuai dengan data kasus diatas kemungkinan Ny. “I” menderita penyakit

a. Vulvitis

b. Vaginitis

c. Servisitis

d. Bartholinitis

e. Endometriosis

42. Kemungkinan kuman penyebab penyakit yang diderita Ny. “I” adalah

a. Streptococcus

b. Candida Albicans

c. Niserea gonorhoe

d. Terponema palidum

e. Trikkomonas vaginalis

43. Komplikasi yang mungkin muncul pada penyakit Ny. “I” adalah

a. Servisitis

b. Salfingitis

c. miometritis

d. Bartholinitis

e. Endometritis

44. Iindakan yang sesuai dengan kewenangan bidan dalam menangani kasus yang dialami Ny.

“I” adalah

a. Bilas vagina

b. Kompres betadine

c. Memberikan albothyl

d. Memberikan AgNO, 10%

e. Kolaborasi pemberian antibiotik

45. Pendidikan kesehatan yang dapat diberikan pada Ny. “I” adalah

a. Bilas Vagina rutin

b. Cebok larutan iodin

c. Rendam rebusan air sirih

d. Cebok dengan sabun sirih

e. Sementara tidak Senggama

Ny. “S” umur 16 tahun datang ke poliklinik untuk periksa. Hasil anamnesis Nn. “S” belum pernah menstruasi, setiap bulan merasakan nyeri siklik ± 5 hari. KU pucat dan perut membesar denganTFU 3 Jari dibawah pusat, serta teraba lunak (Soal no 46-50)

46. Kemungkinan Nn. “S” menderita

a. Amenorea

b. Dismenorea

c. Hypomenorhea

d. Hipermenorhea

e. Kryptomenorhea

47. Perut Nn. “S” membesar kemungkinan disebabkan oleh

a. Adanya mioma uteri

b. Adanya kista endometrium

c. Adanya cairan di rongga perut

d. Tertumknya Darah di uterus

e. Tertumpuknya darah di tuba fallopi

48. TFU Nn. “S” menunjukkan keadaan

a. Hematoma

b. Hematovulva

c. Hematometra

d. Hematokolpos

e. Haematosalpin

49. Keadaan Nn. “S” dapat menyebabkan gangguan

a. Eliminasi

b. Pernafasan

c. Pencernaan

d. Sirkulasi Darah

e. Hubungan seksual

50. Kemungkinan tindakan medis untuk mengatasi masalah Nn. “S” adalah

a. Cauter

b. Insisi hymen

c. Hymenektomi

d. Radiasi hymen

e. Ekterpasi hymen

Anak B umur 9 tahun terjadi perubahan payudara membesar, badan anak lebih cepat membesar, menyatakan sudah haid pertama dan darah yang keluar banyak, satu minggu sebelum haid merasa nyeri kepala, perut kembung dan mual (Soal no 50-55)

51. Disebut apakah tanda seks primer yang dialami oleh anak B

a. Telarche

b. Puberche

c. Menarche

d. Amenorhea

e. Metrorargi

52. Disebut apakah keluhan yang dirasakan anak B, berupa nyeri kepala, perut kembung dan mual

a. Mialgia

b. Artragia

c. Premenstruasi syndrome

d. Syndrome adrenogenital

e. vicarious menstruasion

53. Disebut apakah ciri seks sekunder yang terjadi pada anak B

a. Telarche

b. Menarche

c. Amenorhea

d. Metrorargi

e. Dismenorhea

54. Hormon apakah yang berperan pada pembesaran payudara anak B

a. Hormon LH

b. Hormon FSH

c. Hormon estrogen

d. Hormon LH dan FSH

e. Hormon progesterone

55. Apakah konseling yang tepat untuk mengurangi keluhan anak B

a. Pijat

b. Minum obat

c. Minum jamu

d. Minum air putih

e. Pemahaman diri dan cukup istirahat

Tn. “H” mempunyai dua anak, anak pertama laki-laki kelas 2 SMA dan anak kedua perempuan

berambut panjang dan suka memakai rok panjang duduk di kelas 5 SD. Setahun kemudian anak

perempuannya putus sekolah, Tn. “H” beranggapan bahwa pendidikan bagi perempuan tidak

penting, karena anak perempuan hanya bertugas sebagai ibu rumah tangga. Adapun anak laki

laki tetap melanjutkan sekolah karena anak laki-laki tetap melanjutkan sekolah karena anak laki-

laki dianggap sebagai yang lebih mampu dan bertanggung jawab. Ny. “H” bekerja sebagai buruh

pabrik akan tetapi juga selalu mengerjakan tugas-tugas seperti memasak, mencuci dan menyapu

(Soal no 56-60)

56. Anak perempuan Tn. “ H” mengalami

a. KDRT

b. Kesetaraan gender

c. Diskriminasi gender

d. Kekerasan perempuan

e. Pembentukan karakter Seminime

57. Disebut apakah perlakuan Tn. “H” terhadap anak perempuannya

a. Stereotip

b. Subordinasi

c. Bias gender

d. Beban ganda

e. Marginalisasi

58. Apakah peran anda sebagai bidan dalam upaya terhadap kasus diatas

a. Pendidikan kesehatan gender

b. Memberikan pelayanan yang peka gender

c. Sosialisasi kesetaraan dan keadilan gender

d. Pendidikan kesehatan penanganan bentuk diskriminasi gender

e. Menyarankan Tn “H” menyekolahkan anak perempuannya

59. Disebut apakah perilaku yang ditunjukkan anak kedua Tn. “H”

a. Feminim

b. Keibuan

c. Tomboy

d. Maskulin

e. Menunjukkan identitasnya

60. Disebut apakah peran yang dikerjakan oleh Ny. “H”

a. Stereotip

b. Bias gender

c. Subordinasi

d. Beban ganda

e. Marginalisasi

Terdapat Pasangan suami istri yaitu, Mas W umur 19 tahun dan Mbak R umur 15 tahun datang ke bu bidan ingin konsultasi tentang berpacaran sehat, karena orang tua tidak memperbolehkan untuk menikah karena mereka masih sekolah (Soal no 61-65)

61. Manakah penjelasan bidan yang tepat kepada pasangan Tersebut tentang umur menikah bagi perempuan sesuai dengan UU Perkawinan

a. 16 tahun

b. 17 tahun

c. 18 Tahun

d. 19 Tahun

e. 20 Tahun

62. Selanjutnya bidan akan menjelaskan pada pasangan bahwa masa reproduksi sehat pada wanita adalah umur

a. 15 sampai 25 tahun

b. 20 sampai 30 tahun

c. 20 sampai 35 tahun

d. 25 sampai 35 tahun

e. 25 sampai  38 tahun

63. Apakah resiko yang akan dihadapi pasangan tersebut  bila ia hamil setelah menikah

a. Gemeli

b. Anemia

c. Sungsang

d. Makrosomia

e. Prematuritas

64. Jika pasangan tersebut menikah, kehamilan sebaiknya ditunda sampai

a.1 tahun lagi

b. 2 tahun lagi

c. 3 tahun lagi

d. 4 tahun lagi

e. 5 tahun lagi

65. Anjuran KB disarankan pada pasangan tersebut adalah

a. Pil

b.IUD

c. Suntik

d.Kondom

e. Kalender

Nn.T adalah seorang gadis berumur 17 tahun, ia merupakan salah satu korban dari perdagangan perempuan di kotanya. Awalnya ia dijanjikan sebagai pembantu Rumah Tangga  di luar negeri. Selama di penampungan, ia mengalami siksaan fisik. Ternyata di luar kota dijadikan PSK dipaksa untuk melayani hidung belang (Soal no 66-70)

66. Kekerasan yang dialami oleh Nn. T merupakan

a. Pelecehan seksual

b. Kekerasan dalam rumah tangga

c. Kekerasan terhadap perempuan

d. Penyalahgunaan hak perempuan

e. Perkosaan dan kekerasan seksual

67. Apakah dampak kesehatan reproduksi yang dialami Nn. T

a. KET

b. PMS

c. Infeksi

d. Infertil

e. Abortus

68. Apakah materi konseling yang dapat diberikan pada Nn.T untuk menghindari dampak yang terjadi

a. Menghilangkan diskriminasi gender

b. Melakukan kampanye anti kekerasan

c. Menghindari hubungan dengan berganti pasangan

d. memberikan kesempatan remaja untuk akses insormasi

e. memberikan perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan

69. Bagaimanakah sikap bidan dalam menghadap kasus Nn. T

a. Meminta untuk tidak menemui siapapun

b. Membekali tentang penjagaan keselamatan diri

c. Bekerja sama dengan lembaga sosial pemasyarakatan

d. menutupi masalah agar tidak tersebar di masyarakat

e. Melaporkan tindak kekerasan pada pihak yang berwenang

70. Apakah upaya bidan agar kasus Nn. T tidak terulang lagi di masyarakat

a. Melatih setiap gadis untuk beladiri

b. Mengenalkan pengaruh keutamaan gender

c. mengadakan pelayanan kasus dengan privasi tinggi

d. melakukan skrining terhadap kekerasan perempuan

e. Melaporkan tindakan kekerasan pada pihak yang berwajib

Nn. Cantik umur 20 tahun seorang tunasusila datang ke tempat bidan mengeluh sakit di perut bagian bawah, mengalami perdarahan dan demam. Dari hasil anamnesis ia menggugurkan kandungan pada dukun 10 hari yang lalu (Soal No 71-75)

71. Pengguguran kandungan yang dilakukan Nn. Cantik dalam istilah medis disebut

a. Abortus iminens

b. Abortus in%ipiens

%. Abortus habitualis

d. Abortus provokatus

e. Abortus incompletus

72. Sesuai keluhan yang dirasakan paling mungkin Nn Cantik mengalami

a. Cystitis

b. Salpingitis

c. Endometriosis

d. Appendicitis acuta

e. Abortus infeksious

73. Kemungkinan yang terjadi pada Nn. Cantik adalah

a. Trauma

b. Umur muda

c. Unsafe abortion

d. Personal hygiene

e. Multipartner seksual

74. Akibat kasus yang dialami Nn. Cantik dapat menyebabkan

a. Fertile

b. Infertil

c. Mortalitas

d. Fertilisasi

e. Morbiditas

75. Tindakan bidan terhadap Nn. Cantik sesuai kewenangannya

a. Memberikan antipiretik dan rujuk

b. Melakukan KIP/K pemahaman diri

c. Memberi obat analgetic dan antibiotic

d. Memberi obat antibiotic dan antipiretik

e. Memberi kompres hangat dan antibiotik

Bayi Ny. Jayko lahir spontan dengan berat badan saat lahir 3.250 gram, apgar score saat lahir bayi tampak sianosis, Frekuensi jantung 60-80x/ menit, usaha nafas lambat. Bayi lahir di BPS (Soal no76-80).

76. Nilai apgar score pada kasus diatas yaitu

a. 0-3

b. 4-6

c. 7-8

d. 7-9

e. 7-10

77. Diagnosis pada kasus diatas adalah

a. Aspirasi

b. Asfiksia

c. Asfiksia ringan

d. Asfiksia sedang

e. Asfiksia berat

78. Penanganan pada kasus diatas yaitu

a. Observasi tanda vital

b. Beri oksigen 4-5 liter

c. Bersihkan badan dan tali pusat

d. Bungkus bayi dengan kain hangat

e. Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belum reaksi, bantu

pernapasan dengan ambubag

79. Penyebab kasus diatas dilihat dari faktor neonatus yaitu

a. Hipoksis

b. Solusio plasenta

c. Kompresi umbilikus

d. adanya pengaruh obat

e. Trauma yang terjadi selama persalinan

80. apabila tindakan yang dilakukan tidak berhasil maka langkah bidan selanjutnya adalah

a. Resusitasi

b. jaga kehangatan

c. infuse dekstrose 40%

d. rujuk ke rumah sakit

e. MasukkaN ke inkubator

JAWABAN SOAL

1. B

2.  A

3.  A

4.  B

5.  B

6.  E

7.  D

8.  B

9.  B

10. C

11.E

12. E

13. B

14. E

15. B

16. C

17. D

18. E

19. E

20. E

21. A

22. C

23. C

24. D

25. D

26. E

27. E

28. D

29. D

30. E

31. E

32. A

33. D

34. C

35. E

36. C

37. E

38. D

39. D

40. E

41. A

42. E

43. D

44. E

45. E

46. E

47. D

48. C

49. D

50. B

51. C

52. C

53.  B

54. C

55. E

56. C

57. B

58. C

59. A

60.C

61. E

62. C

63.  E

64. E

65. A

66. E

67. B

68. C

69. E

70.B

71. D

72. E

73.  C

74. C

75. A

76. B

77. D

78. E

79. A

80.D

 

TINJAUAN KESEHATAN WANITA DITEMPAT KERJA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Bahwasanya secara normatif wanita mempunyai hak dan kewajiban serta kesempatan yang sama dengan pria dalam segala bidang kehidupan dan bidang pembangunan seperti yang tercantum dalam GBHN, tetapi secara factual persamaan tersebut saat ini belum terwujud, diantaranya di bidang kesehatan. Masih banyak wanita yang mengalami diskriminasi dalam bidang kesehatan, umpamanya: pembedaan pemberian makanan bergizi pada anak laki-laki dan wanita, akses informasi, dan akses pelayanan kesehatan dan sebagainya.
Untuk menghilangkan hambatan-hambatan ini salah satu usaha pemerintah berusaha untuk meningkatkan pelayanan terhadap wanita usia produktif dengan menyediakan puskesmas dan rumah sakit dengan berbagai fasilitasnya. Tetapi di Indonesia, usaha dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi ini masih belum mencapai tujuan yang diinginkan.
Hal ini masih terbukti masih tingginya angka kematian ibu bersalin yaitu 375/100.000 kelahiran hidup, tertinggi di Asia Tenggara. Tingginya angka kematian ibu, disinyalir penyebab utamanya adalah perdarahan, infeksi, dan toksernia dan penyebab tak langsung adalah kemiskinan, tradisi sosial budaya, status gizi yang tidak memadai dan kurangnya akses pemanfaatan dan faslitas kesehatan serta rendahnya status wanita. Masalah kesehatan reproduksi wanita ini tidak terlepas dari faktor sosial, budaya danekonomi secara keseluruhan.
Oleh sebab itu diperlukan usaha-usaha yang lebih sederhana, lebih mudah terjangkau, lebih sesuai dengan kondisi sosial ekonomi dan budaya setempat, dan juga mengikut sertakan masyarakat secara umum dan terpadu. Hal yang lebih penting dalam memasyarakatkan kesehatan reproduksi ini adalah kesadaran dan motivasi masyarakat sendiri (terutama pihak wanita) yang menjaga kesehatan reproduksinya.
Artinya hal ini membawa pemikiran baru untuk mengefektitkan serta mengintensitkan pelaksanaan berdasarkan kesadaran masyarakat dan kebutuhannya sendiri. Terobosan dan strategi bagaimana memasyarakatkan program kesehatan reproduksi khususnya reproduksi wanita tanpa arahan atau paksaan. Untuk itu penulis ingin mengetahui lebih dalam bagaimana tanggapan wanita sendiri dan masyarakatnya tentang kesehatan reproduksi mereka.

1.2 Konsep Pemikiran Tentang Kesehatan Reproduksi Wanita
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka wanita sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh sebab itu wanita, seyogyanya diberi perhatian sebab :
1. Wanita menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi pria berkaitan dengan fungsi reproduksinya
2. Kesehatan wanita secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan.
3. Kesehatan wanita sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatas namakan “pembangunan” seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk.
4. Masalah kesehatan reproduksi wanita sudah menjadi agenda Intemasional diantaranya Indonesia menyepakati hasil-hasil Konferensi mengenai kesehatan reproduksi dan kependudukan (Beijing dan Kairo).

Berdasarkan pemikiran di atas kesehatan wanita merupakan aspek paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh sebab itu pada wanita diberi kebebasan dalam menentukan hal yang paling baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri.

1.3 Pandangan Masyarakat terhadap Kesehatan Wanita.
Dalam diskusi kelompok terarah (DKT) yang berkenaan dengan kesehatan reproduksi wanita, sebenarnya pandangan masyarakat terhadap hal tersebut. Kesehatan alat reproduksi sebenarnya bukanlah penting menurut mereka. Juga sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa peristiwa mulai dari haid sampai perkawinan, hamil, melahirkan atau segala yang berkaitan dengan alat kelamin wanita adalah peristiwa alamiah dan tidak perlu dibesar-besarkan.
Pandangan yang telah berurat berakar baik pada kelompok wanita dan masyarakat tidak terlepas dari peran jender wanita yang disosialisasikan bahwa wanita haru mendahulukan kepentingan-kepentingan di luar dirinya, dan bahkan sering mengabaikan kesehatannya sendiri.
Definisi sehat dan sakit dalam pengertian masyarakat desa berbeda dengan pengertian medis. Pengertian medis yang menyatakan sakit adalah terganggunya salah satu organ tubuh dalam menjalankan fungsinya, dianggap masyarakat bukanlah sakit sepanjang masih dapat berjalan dan melakukan kegiatan seperti biasa. Berkaitan dengan kesehatan reproduksi wanita, masyarakat beranggapan bahwa hal tersebut merupakan masalah “pribadi” yang bersangkutan.
Akibatnya banyak wanita jika mengalami penyakit yang berkaitan dengan alat reproduksinya berusaha mengatasi sendiri, misalnya dengan obat tradisional atau jamu. Padahal masalahnya tidak sesederhana itu, jika penyakitnya sudah parah barulah mereka mencari pertolongan dokter, atau bidan.
Hal lain yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi wanita, adalah mengenai kegiatan ber-KB. Masyarakat termasuk wanita yang .berusia subur beranggapan bahwa yang ber-KB adalah wanita. Meskipun laki-laki pun dapat ber-KB misalnya dengan metode vasektomi, tetapi baik wanita maupun laki-laki sama-sama keberatan.
Alasan wanita adalah suami adalah tulang punggung keluarga dalam rnencari ekonomi rumah tangga. Jika terjadi apa-apa (misalnya suami sakit gara-gara ber-KB), siapa yang menangung biaya rumah tangga? Dalam hal ini wanita “mengalah” membiarkan dirinya ber-KB, meskipun kadangkala kesehatan tidak mengizinkan atau alat kontrasepsi sering tidak cocok. Alasan bagi laki-laki enggan ber-KB adalah dengan mendengar “issue” mereka akan mengalami kehilangan gairah seksual. Dengan asumsi seperti ini memang sukar menghilangkan “dogma” tersebut dalam
Pandangan lain yang sehubungan dengan kesehatan reproduksi wanita adanya sebaiknya dalam memeriksa adalah dokter, bidan atau petugas sesame wanita juga. Sebagian responden mengakui bahwa suami mereka menghendaki jika istri mereka terpaksa berobat ke puskesmas atau rumah sakit, terlebih dahulu cari dokter, bidan atau petugas kesehatan sesama wanita. Alasannya sangat janggal kalau alat reproduksi wanita “dilihat” oleh orang lain apalagi laki-laki lain. Kalau melahirkan masih dapat dimaafkan, tetapi kalau sekedar berobat atau memeriksa kehamilan sebaiknya dengan petugas sesama wanita.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kesehatan Wanita.
Berdasarkan Konferensi Wanita sedunia ke IV di Beijing pada tahun 1995 dan Koperensi Kependudukan dan Pembangunan di Cairo tahun 1994 sudah disepakati perihal hak-hak reproduksi tersebut. Dalam hal ini (Cholil,1996) menyimpulkan bahwa terkandung empat hal pokok dalam reproduksi wanita yaitu :
• Kesehatan reproduksi dan seksual (reproductive and sexual health)
• Penentuan dalam keputusan reproduksi (reproductive decision making)
• Kesetaraan pria dan wanita (equality and equity for men and women)
• Keamanan reproduksi dan seksual (sexual and reproductive security)
Adapun definisi tentang arti kesehatan reproduksi yang telah diterima secara internasional yaitu : sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental, sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan sistim, fungsi-fungsi dan proses reproduksi. Selain itu juga disinggung hak produksi yang didasarkan pada pengakuan hak asasi manusia bagi setiap pasangan atau individu untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, penjarakan anak, dan menentukan kelahiran anak mereka.

2.2 Indikator Permasalahan Kesehatan Wanita.
Dalam pengertian kesehatan reproduksi secara lebih mendalam, bukan semata-mata sebagai pengertian klinis (kedokteran) saja tetapi juga mencakup pengertian sosial (masyarakat). Intinya goal kesehatan secara menyeluruh bahwa kualitas hidupnya sangat baik. Namun, kondisi sosial dan ekonomi terutama di negara-negara berkembang yang kualitas hidup dan kemiskinan memburuk, secara tidak langsung memperburuk pula kesehatan reproduksi wanita. Indikator-indikator permasalahan kesehatan reproduksi wanita di Indonesia antara lain:
1. Jender, adalah peran masing-masing pria dan wanita berdasarkan jenis kelamin menurut budaya yang berbeda-beda. Jender sebagai suatu kontruksi social mempengaruhi tingkat kesehatan, dan karena peran jender berbeda dalam konteks cross cultural berarti tingkat kesehatan wanita juga berbeda-beda.
2. Kemiskinan, antara lain mengakibatkan:
• Makanan yang tidak cukup atau makanan yang kurang gizi
• Persediaan air yang kurang, sanitasi yang jelek dan perumahan yang tidak layak.
• Tidak mendapatkan pelayanan yang baik.

2.2.1 Pendidikan yang rendah.
Kemiskinan mempengaruhi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Kesempatan untuk sekolah tidak sama untuk semua tetapi tergantung dari kemampuan membiayai. Dalam situasi kesulitan biaya biasanya anak laki-laki lebih diutamakan karena laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Dalam hal ini bukan indikator kemiskinan saja yang berpengaruh tetapi juga jender berpengaruh pula terhadap pendidikan. Tingkat pendidikan ini mempengaruhi tingkat kesehatan. Orang yang berpendidikan biasanya mempunyai pengertian yang lebih besar terhadap masalah-masalah kesehatan dan pencegahannya. Minimal dengan mempunyai pendidikan yang memadai seseorang dapat mencari liang, merawat diri sendiri, dan ikut serta dalam mengambil keputusan dalam keluarga dan masyarakat.

2.2.2 Perkawinan di usia muda
Di negara berkembang termasuk Indonesia kawin muda pada wanita masih banyak terjadi (biasanya di bawah usia 18 tahun). Hal ini banyak kebudayaan Yang menganggap kalau belum menikah di usia tertentu dianggap tidak laku. Ada juga karena faktor kemiskinan, orang tua cepat-cepat mengawinkan anaknya agar lepas tanggung jawabnya dan diserahkan anak wanita tersebut kepada suaminya. Ini berarti wanita muda hamil mempunyai resiko tinggi pada saat persalinan. Disamping itu resiko tingkat kematian dua kali lebih besar dari wanita yang menikah di usia 20 tahunan. Dampak lain, mereka putus sekolah, pada akhirnya akan bergantung kepada suami baik dalam ekonomi dan pengambilan keputusan.

2.2.3 Kekurangan gizi dan Kesehatan yang buruk.
Menurut WHO di negara berkembang terrnasuk Indonesia diperkirakan 450 juta wanita tumbuh tidak sempurna karena kurang gizi pada masa kanak-kanak, akibat kemiskinan. Jika pun berkecukupan, budaya menentukan bahwa suami dan anak laki-laki mendapat porsi yang banyak dan terbaik dan terakhir sang ibu memakan sisa yang ada. Wanita sejak ia mengalami menstruasi akan membutuhkan gizi yang lebih banyak dari pria untuk mengganti darah yang keluar. Zat yang sangat dibutuhkan adalah zat besi yaitu 3 kali lebih besar dari kebutuhan pria. Di samping itu wanita juga membutuhkan zat yodium lebih banyak dari pria, kekurangan zat ini akan menyebabkan gondok yang membahayakan perkembangan janin baik fisik maupun mental. Wanita juga sangat rawan terhadap beberapa penyakit, termasuk penyakit menular seksual, karena pekerjaan mereka atau tubuh mereka yang berbeda dengan pria. Salah satu situasi yang rawan adalah, pekerjaan wanita yang selalu berhubungan dengan air, misalnya mencuci, memasak, dan sebagainya. Seperti diketahui air adalah media yang cukup berbahaya dalam penularan bakteri penyakit.

2.2.4 Beban Kerja yang berat.
Wanita bekerja jauh lebih lama dari pada pria, berbagai penelitian yang telah dilakukan di seluruh dunia rata-rata wanita bekerja 3 jam lebih lama. Akibatnya wanita mempunyai sedikit waktu istirahat, lebih lanjut terjadinya kelelahan kronis, stress, dan sebagainya. Kesehatan wanita tidak hanya dipengaruhi oleh waktu kerja, tetapi juga jenis pekerjaan yang berat, kotor dan monoton bahkan membahayakan. Di India banyak kasus keguguran atau kelahiran sebelum waktunya pada musim panen karena wanita terus-terusan bekerja keras. Dibidang pertanian baik pria maupun wanita dapat terserang efek dari zat kimia (peptisida), tetapi akan lebih berbahaya jika wanita dalam keadaan hamil, karena akan berpengaruh terhadap janin dalam kandungannya. Resiko-resiko yang harus dialami bila wanita bekerja di industri-industri misalnya panas yang berlebihlebihan, berisik, dan cahaya yang menyilaukan, bahan kimia, atau radiasi.
Peran jender yang menganggap status wanita yang rendah berakumulasi dengan indikator-indikator lain seperti kemiskinan, pendidikan, kawin muda dan beban kerja yang berat mengakibatkan wanita juga kekurangan waktu, informasi, untuk memperhatikan kesehatan reproduksinya.

2.3 Wanita Di Tempat Kerja
Kesehatan reproduksi menjadi cukup serius sepanjang hidup, terutama bagi perempuan, selain karena rawan terpapar penyakit, juga berhubungan dengan kehidupan sosialnya, misalnya kurangnya pendldikan yang cukup, kawin muda, kematian ibu, masalah kesehatan reproduksi perempuan, masalah kesehatan kerja, menopause, dan masalah gizi (Baso dan Raharjo, 1999).
Sebagaian besar perempuan bekerja keras setiap hari, memasak, membersihkan rumah demi kelangsungan hidup keluarga. Namun jika perempuan juga bekerja di luar rumah (mencari penghasilan), maka beban kerjanya menjadi rangkap. Beban kerja yang terlalu berat membuat seorang perempuan mengalami kecapekan dan mudah terserang penyakit. Terlebih lagi bila seorang perempuan tidak punya cukup waktu untuk istirahat dan tidak memperoleh cukup perhatian akan kondisi kesehatannya.
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. Mengkaji karakteristik wanita
2. Mengkaji aktivitas kerja yang dilakukan oleh wanita yang bekerja di sektor informal
3. Mengkaji kondisi kesehatan reproduksi
4. Mengkaji aktivitas kerja dan kondisi kesehatan reproduksi wanita. yang bekerja di sektor informal. Diharapkan penelitian ini
1. didapatkan suatu informasi mengenai kondisi kesehatan reproduksi pada kelompok pekerja wanita dan
2. Sebagai data yang dapat dipergunakan untuk pengembangan pelayanan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi pada wanita.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner terstruktur pada 33 responden wanita yang bekerja di usaha kegiatan konveksi dan katering. Analilisis data dilakukan dengan melakukan tabel distribusi frekuensi dan tabel silang.
Hasil penelitian ini menunjukkan: sebagian besar responden berada pada kelompok usia 40-49 tahun. Sebagian besar telah tamat SMP. Dilihat dan aktivitas kerja sahagian besar responden 54,5% bekerja salama 7 hari/minggu. Dalam 1 hari sebagian besar bekerja kurang dari 6 jam sehari.\
Dalam kaitan dengan kesehatan reproduksi usia pertama kali menikah sebagian besar berusia 15-20 tahun dan 78,8% responden mempunyai anak setelah pernikahan. Hal ini menunjukkan tingkat kesuburan dari responden. Hasil penelitian juga menunjukkan sebagian kecil responden belum mempunyai anak (belum pernah hamil dan mengalami keguguran).
Dalam kaitan dengan pengaturan kehamilan sebagian besar tidak melakukan pengaturan terhadap kehamilan dan jumlah anak yang diinginkan. Kondisi ini dapat dimungkinkan antara lain kesempatan bekerja di luar rumah membuat responden mempunyai otonomi yang besar dalam hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Sedangkan bagi responden yang mengatur kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi maka jenis kontrasepsi modern menjadi pilihannya baik atas pertimbangan sendiri maupun atas pertimbangan suami istri. Askes pelayanan KB maupun kesehatan reproduksi sebagaian besar pergi ke tempat pelayanan kesehatan. Sebagaian besar responden mengaku menstruasi pertama kali setelah usia lebih 12 tahun dan sebagian besar tidak mengalami sakit saat mentruasi dengan siklus antara 21-35 hari. .
Kondisi kesehatan reproduksi di tempat kerja menunjukkan belum banyak responden yang mendapatkan hak reproduksi sehat (cuti haid, kelahiran, dan pemberian ASI. Sedangkan aktivitas kerja di luar rumah tampak masih ada yang belum mempunyai anak. Untuk memelihara kesehatan manusia memerlukan kerja dan istirahat yang cukup sehingga tidak mudah sakit terutama yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan penelitian ini adalah sebagaian besar responden pada kelompok usia 40-49 tahun. Sebagian besar bekerja salama 7 hari/minggu sedang lama kerja dalam sehari sebagaian besar kurang dari 6 jam/hari Sebagian besar responden menikah di usia muda dan mengalami kehamilan di usia muda. Sebagaian kecil responden belum mempunyai anak (keguguran dan belum pernah hamil) Sebagian besar responden tidak mengatur jumlah anak yang diinginkan dan sebagian besar mendapat menstrusi pertama yang terlambat. Belum adanya pelayanan kesehatan reproduksi sehat di tempat kerja kurangnya keserasian antara aktivitas kerja dan menjaga kondisi kesehatan reproduksi.
Disarankan perlunya upaya penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi pada kelompok-kelompok tertentu yaitu wanita yang berkerja di sektor informal.